Sabtu, 20 September 2014

Syndrome Rumput Tetangga Lebih Hijau



Oke guys, ini postinganku yang pertama setelah "menghilang" dari peredaran karena UN dan kesibukan lainnya deh :p

Langsung ajah yaaa...
Kita seringkali berpikir "enak ya jadi kayak dia" , "enak ya punya keluarga 
kayak dia", "enak ya hidup kayak  dia", "enak ya cakep kayak  dia", dan lain-lain...

Kita selalu berpikir untuk "kayak" orang lain yang menurut kita punya kehidupan yang lebih enak. Memang itu bagus-bagus ajah dan sah-sah ajah pasti setiap manusia pernah berpikir begitu, ya aku sendiri pun pernah berpikir begitu :) tapi berpikir untuk menjadi orang lain kadang-kadang bisa menjadi boomerang buat diri kita sendiri. Efek buruknya kita jadi ingin lepas dari kenyataan hidup dan selalu ingin menjadi orang lain ; banyak mengeluh, ga pede, merasa diri kurang dalam banyak hal, lebih sering marah-marah karena merasa bosan dengan keadaan kita sekarang yang never change like her/him :D

Aku pernah ngalamin syndrome "be others self". Aku ngeliat temenku yang cantiknya lumayanlah, dia disukai banyak temen, anak orang kaya, punya orang tua yang lengkap, anter jemput naik mobil, dll dari 0 sampe sekian aku ngerasa dia lumayan perfect dan aku pengen hidup kayak dia dengan keluarga yang perfect banget. Ibaratnya sih kagum sama rumput tetangga yang lebih hijau.

Tapi ternyata dia cerita, ternyata dia kepengen banget punya keluarga seperti keluarga temenku yang lainnya. Dia ngerasa hampa, punya keluarga yang tidak seharmonis keluarga lainnya. Ternyata kehidupan keluarganya tidak seperti yang aku bayangkan, di tengah kemewahannya, keluarganya kurang akrab, masing-masing sibuk sendiri, sering ribut, pokoknya mama-papanya susah menyatu.

Dari pengalaman itu aku jadi tahu, apa yang kita bayangkan di depan itu ternyata ga semulus apa yang di dalamnya. Aku jadi ngerasa meskipun aku bukan dia yang punya keluarga lengkap, meskipun aku bukan dia yang dianter jemput naik mobil, punya gadget mahal, cantik, banyak teman, punya pesona dalam pergaulan dan lainnya ternyata aku lebih bahagia daripada dia. Aku punya keluarga yang sederhana yang semuanya bisa bersatu, lebih gampang ngumpulnya, akrab meskipun keluargaku sering dilanda problem juga yang ga bisa diceritain di sini, ternyata setelah aku rasa-rasa aku lebih "enak" daripada dia.

Saking ngototnya ingin menjadi orang lain seringkali kita kurang memperhatikan apa yang udah Tuhan kasih buat kita. Tuhan selama ini sudah baik buat kita, ibaratnya kita pengen punya rumput seperti rumput tetangga yang lebih hijau padahal rumput kita meskipun ga sehijau punya tetangga ternyata lebih bergizi buat kambing-kambing kita daripada punya tetangga. Punya tetangga memang lebih hijau hanya perawatannya lebih mahal dan berpenyakit karena sering dikasih bahan kimia pestisida. Rugi kan? Mending milih rumput sendiri ajah :)

Jadi intinya, perbanyak bersyukur dan menjadi diri sendiri itu lebih baik daripada terus ingin menjadi diri orang lain yang hasilnya menjadi penyakit batin yang berujung penyakit fisik juga :)

Hidup itu boleh-boleh ajah melihat ke atas tapi perlu juga melihat ke bawah jadi kita ga terus-terusan berpikir "enak kayak dia ya" harusnya kita jadi berpikir "untung gue dikasih gini sama Tuhan, ternyata ada yang lebih susah. Ternyata di atas juga ga senyaman yang dipikirkan. Makasih Tuhan". Tuhan sudah kasih manusia takdir yang bisa kita ubah kalo kita pengen berusaha, Tuhan juga udah menempatkan kita di posisi yang tepat, istilahnya kursi yang tepat, jadi jangan keterusan mengingini kursi lainnya.


Dalam hidup ini, kita hanya perlu melakukan 4B1M :  bersyukur, berusaha, beramal, berbuat baik dan mendekatkan diri kepada cinta kasih Tuhan. Karena apapun yang kita ingini pasti akan tercapai suatu saat nanti atau mungkin Tuhan memberi lebih dari yang kita ingini. Kita ga pernah tahu rencana Tuhan, Tuhan memang tidak langsung memberi, tapi ia pasti memberi. Sadar ga kalo sebenarnya doa kita itu terkabul hanya Tuhan memberi dengan cara yang berbeda? Misalnya kita lagi pengen gadget mahal tapi ternyata Tuhan kasih kita keluarga yang sayang sama kita. Nah karena Tuhan tau segalanya, Tuhan tau kita lebih membutuhkan itu dibandingkan gadget mahal.  Entah bagaimana caranya Tuhan memberi yang penting 4B 1M harus benar-benar diterapkan dalam hidup kita secara utuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar